Mengaku Polisi dan Peras Wanita, Dua Napi Lapas Kota Agung Tanggamus Diciduk

Administrator   |   Kriminalitas  |   Jumat, 05 Oktober 2018 - 14:14:23 WIB   |  dibaca: 25773 kali
Mengaku Polisi dan Peras Wanita, Dua Napi Lapas Kota Agung Tanggamus Diciduk

Ilustrasi penangkapan pelaku mengaku polisi, (Foto : Poskota).

TANGGAMUS - Tim gabungan Subdit Cybercrime Ditreskrimsus Polda Kalimantan Selatan dan Subdit II Cybercrime Ditreskrimsus dan Subdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Lampung kembali menangkap pemerasan dan penipuan dengan modus mengancam akan menyebarkan video call seks korban.

Ironisnya dua dari tiga pelaku yang ditangkap merupakan narapidana yang mendekam di Lapas Kelas IIB Kotaagung. Modusnya, mereka mencari korban di Facebook dan menyamar berpura-pura menjadi sebagai anggota polisi. Direktur Ditreskrimum Polda Lampung Kombes Bobby Marpaung melalui Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Lampung AKBP Ruli Andi Yunianto menjelaskan ketiga pelaku tersebut yakni Wahyu Agung Wibowo alias Wahyu (36) warga Jl. Buncis, Kemiling, Bandarlampung dan dua narapidana Lapas Kelas IIB Kotaagung M. Ilhamsyah (36) alias Ilham dan Chandta Prayuda aliaz Yuda (35).

Mereka ditangkap pada Selasa (2/10) lalu. Penangkapan ini bermula berawal dari penyelidikan yang dilakukan tin cybercrime Ditreskrimsus Polda Kalsel.
"Setelah itu diketahui para pelaku berada di Lampung. Kemudian Polda Kalsel berkoordinasi dengan kami untuk melakukan upaya penangkapan," jelas Ruli ditemui diruangannya kemarin. Dari hasil penyelidikan dua pelaku merupakan narapidana Lapas Kotaagung. Polisi bergerak dan menangkap mereka.

Penangkapan ketiga kata Ruli, bermula dari laporan korbannya yakni DR (35) warga Kecamatan Pelaihari Kabupaten Tanah Laut, Kalsel. Laporan tertuang dalam nomor laporan LP/445/VIII/2018/Kalsel/SPKT tertanggal 13 Agustus 2018 lalu. Ibu rumah tangga itu melapor lantaran ia diperas dan ditipu hingga mengalami kerugian Rp14 juta.

Pemerasan bermula ketika para pelaku berusaha mencari korban di Facebook dengan sasaran wanita. Pelaku Chandra yang merupakan napi membuat akun Facebook dengan menggunakan nama pelaku Wahyu Agung Wibowo. Wahyu sendiri merupakan adik ipar Ilham. Ketiganya bekerjasama. Mereka menggunakan akun dengan foto profil polisi muda. "Tujuannya untuk memikat korban yang sasarannya wanita agar tertarik," ujarnya.

Mereka akhirnya mendapat korban DR. Chandra yang menyamar jadi Wahyu mengaku sebagai anggota polisi yang bekerja Polres Bengkulu Selatan. DR percaya, dari Facebook, hubungan keduanya dilanjutkan ke WhatsApp hingga Wahyu berhasil memikat dan menjadikan DR sebagai kekasih.

"Setelah pelaku dan korban berpacaran, dengan bujuk rayu akan dinikahi. Pelaku meminta korban video call seks dan tanpa disadari korban direkam," jelas alumnus Akpol 1998 ini.

Dari situ, pelaku kemudian meminta uang dan mengancam akan menyebarkan hasil video call seks tersebut ke media sosial. Karena takut, DR kemudian diperas. Ia akhirnya bersedia memenuhi permintaan pelaku dan mentransfer uang sebesar Rp14.8 juta ke rekening milik Wahyu. Mereka membagi keuntungan tersebut.

"Tersangka Ilham mendapatkan keuntungan sebesar 10 persen. Dan tersangka Wahyu Agung mendapatkan upah sebesar Rp200 ribu dari tersangka Ilham," urainya.

Perkara tersebut ditangani oleh tim Subdit cybercrime Polda Kalsel. Sementara kata Ruli, ketiga pelaku dijerat dengan UU ITE karena dianggap melanggar pasal 45 UU Nomor 19/2016 tentang Perubahan Atas UU Nomor 11/2008 tentang ITE. Dari penangkapan itu polisi menyita barang bukti sejumlah buku rekening bank, kartu ATM, dan tiga unit handphone dari tiga pelaku.

Sementara, Kalapas Kelas IIB Kotaagung Sohibur Rachman membenarkan dua narapidananya diciduk. Ia mengatakan pihaknya menyerahkan proses hukum kedua warga binaan tersebut kepada polisi. Ia mengaku pihaknya terbuka dengan aparat polisi dan mempersilahkan untuk menindak siapa saja yang dianggap terlibat termasuk oknum pegawai.

"Dan ini kami tidak menutup kemungkinan adanya keterlibatan oknum," kata dia kepada Humas Polres Tanggamus kemarin.

Ia mengatakan, Ilham sendiri merupakan napi dengan hukuman selama tiga tahun penjara lantaran divonis bersalah atas kasus penipuan uang palsu. Sedangkan Chandra narapidana dengan hukuman 16 tahun penjara kasus kepemilikan narkotika.

Ia mengatakan dirinya baru dua pekan memimpin Lapas Kotaagung. Terkait dengan narapidana bisa leluasa mengakses alat komunikasi seperti handphone. Tentunya kata dia ia bakal mengevaluasi standar keamanan yang selama ini diterapkan.

"Saya masuk kesini baru dua minggu saya masih fokus melakukan pembenahan termasuk mengevaluasi keamanan," kata dia. (*)

Profil Administrator

Administrator

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Komentar




Komentar Facebook